Incontro [Beyond The Air – 3]

Seminggu setelah pembukaan hotel Zeus tidak ada kejadian yang membuatnya turun tangan. Semuanya berlangsung mulus. Pun kegelisahannya tentang isu presiden eSem Corp. sudah menghilang di tumpukan kertas yang ada dihadapannya. Pekerjaan memang cara paling ampuh untuk menghilangkan masalah lain. Pintu ruangannya diketuk teratur.

“Manajer Choi, ini laporan hotel-hotel di Jeju dan satu jam lagi ada undangan makan siang di restoran D’Soo..” jelas asistennya sementara Jihyun masih memandangi komputer dengan jari menekan tuts keyboard. “Ditunda saja dengan hari lain, aku tidak yakin bisa selesai dalam satu jam. Laporan ini untuk rapat besok pagi dan masih banyak yang perlu diperbaiki, Yeollie” balas Jihyun tanpa sekali pun meninggalkan perhatiannya pada tulisan di komputer. Paling masalah kerjasama atau hanya sekedar bertemu.

“Kurasa tidak baik menolak tawaran tuan besar Wu” Jemarinya berhenti mengetik, sementara atensinya berubah memandang Chanyeol dengan wajah serius. Pemuda itu meyakinkannya dengan anggukan singkat. Jihyun menghela nafasnya sambil bersandar lemas di kursinya. “Baiklah tunggu lima belas menit lagi. Kurasa kau harus lembur untuk membantuku menulis laporan kali ini” Chanyeol tersenyum kepada gadis itu dan dibalas senyum manis yang serupa.

Masih sama seperti sebelumnya, Porsche merah miliknya kali ini disupiri oleh Chanyeol sementara dia sibuk merias diri. Sesekali Chanyeol melakukan belok mendadak sehingga membuat riasannya kemana-mana. Gerutu Jihyun mengisi suasana dalam mobil yang berakhir tawa diantara keduanya. Sebelum turun, seperti biasa, Chanyeol mengecek penampilan gadis itu. Tangannya menarik tisu dari tempatnya dan mengarahkan ke ujung bibir Jihyun. Menggosoknya perlahan, menghilangkan warna merah yang keluar dari garis bibirnya. “Gara-gara kau, Yeollie” Kekehan pelan terdengar dari Chanyeol.

Restoran D’Soo. Restoran mewah dengan nuansa Eropa selatan yang lekat. Warna putih mendominasi ruangan dan beberapa patung dewa-dewi besar terpasang sempurna di sudut ruangan. Ada air mancur di tengah ruangan dengan patung Poseidon gagah di tengahnya. Tak perlu waktu lama baginya untuk bertemu dengan tuan besar Wu. Pelayan di restoran ini mengantarkannya pada ruangan minimalis yang kemungkinan khusus untuk tamu penting.

“Selamat siang tuan besar Wu” Senyum Jihyun ditambah dengan membungkuk dalam. Mantan presiden Wu mempersilahkannya untuk duduk. Dia tidak ditemani siapa pun, yeah kecuali pengawal berbadan kekar di depan pintu. Sama seperti Jihyun, asistennya memilih untuk pergi karena ada urusan dan akan kembali secepatnya.

Percakapan ringan sampai berat mulai mengisi ruangan. Makanan ala Negara mediterania sudah terpajang meja. Sambil makan, mereka terus berbicara sesekali tertawa. Tidak terlalu membosankan rasanya untuk tingkatan orang tua. Pintu masuk dibelakang Jihyun terbuka. “Kau sudah datang?” tanya tuan besar Wu kepada orang tersebut. Jihyun menghapus sisa makanan di mulutnya dengan kain sebelum berdiri menghadap tamunya yang lain.

Seorang laki-laki dengan tubuh proporsional ala model masuk ke dalam ruangannya. Jihyun membungkuk sedikit dengan senyum di bibirnya. “Jihyun-ssi, kenalkan putraku, Wu Yifan atau biasa dipanggil Kris” jelas tuan besar Wu. Kacamata hitam yang bertengger di hidung mancung pria itu dilepas menampilkan mata tegas berwarna coklat dengan bulu mata yang panjang. Jihyun kembali membungkuk “Saya Choi Jihyun, senang bertemu dengan anda presiden Wu”

Kris berjalan melewati gadis itu dan duduk di kursi yang kosong. Jihyun diam dalam posisinya, ia tidak mengharapkan perlakuan yang hebat seperti karyawan kantornya tetapi dengan mengacuhkan orang lain bukan ide yang bagus. Tuan besar Wu mempersilahkan Jihyun untuk kembali duduk.

Kali ini atmosfernya berbeda, tegang dan dingin. Tak banyak percakapan, sesekali Jihyun menjawab atau tersenyum seperti biasanya. Dering ponsel tuan besar Wu berbunyi dan dia mengangkatnya di tempat sementara dua orang lainnya sibuk dengan makanan. “Maaf Jihyun-ssi, sepertinya saya harus pergi sekarang. Sampai berjumpa lagi. Yifan, kau temani dia makan” Jihyun berdiri dan membungkuk dalam “Terima kasih atas undangannya dan hati-hati di jalan, tuan besar Wu” Gadis itu tersenyum dan kembali ke posisi duduknya.

Suasana kembali sunyi. Kris pada akhirnya bertanya “What’s your job in my company?” Pertanyaan dalam bahasa Inggris seperti yang diperkirakannya “I’m manager on hotel division” jawabnya singkat sambil memakan makanan penutupnya. “Kono wa hontōni muzukashīdesuka (Susah kan)?” Kali ini menggunakan bahasa Jepang. “iie, arimasen (Tidak juga)” kembali Jihyun menjawab dengan mudah dengan bahasa Jepang pula. Begitu seterusnya, percakapan dari bahasa Mandarin, Tagalog, Kanton, Italia, sampai kembali lagi ke bahasa Korea dilakukan oleh mereka. Jihyun menanggapinya dengan tenang dan tersenyum sampai Kris pindah tepat di sebelahnya.

Jihyun melihat gelagat Kris yang tiba-tiba. Tubuh pemuda itu bercondong ke arahnya, wajah tampannya semakin mendekati gadis itu. Seperti kutub sejenis pada magnet, Jihyun justru perlahan memundurkan tubuhnya. “A-apa yang kau lakukan p-presiden Wu?” Nafas pemuda itu terasa di kulit wajah yang membuat Jihyun menutup kedua matanya rapat-rapat. “Berhenti tersenyum palsu seperti itu. Menjijikan” desisnya pelan lalu Kris kembali menarik dirinya dan pergi dari lokasi. Menyisakan Jihyun yang bingung dengan apa yang harus dia perbuat.

Tak lama seorang pemuda masuk buru-buru masuk. “Jihyun, ada apa? Kau tidak apa-apa? Kulihat tadi presiden Wu sudah keluar tapi kau tak keluar-keluar juga” Ada rasa khawatir di suara Chanyeol karena melihat Jihyun yang terdiam dalam kebingungannya. Kelereng coklat milik Jihyun menatap kosong pada pemuda di hadapannya. “C-cium..” bisiknya pelan. “Apa? Kau bilang apa Jihyun?” Chanyeol memegang bahu gadis itu, menghentikan gemetar yang perlahan terlihat di matanya “A-aku h-hampir dicium, Yeollie! Aku hampir dicium dia! d-dan d-dia bilang aku m-menjijikkan”

Setetes air mata keluar dari sudut matanya. Pria itu menegang kaget dan perlahan merengkuh badan Jihyun ke dalam pelukannya. Dia tahu satu kata yang sangat tidak disukai gadis itu yang kini justru membuat tubuhnya gemetaran. “Tenang, sudah tidak apa-apa. Choi Jihyun adalah perempuan baik-baik aku tahu itu” Chanyeol membelai punggung gadis itu. Sementara ia masih menangis pelan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s