The Deaf Pianist

Title: The Deaf Pianist

Cast:

  • Luhan (EXO)
  • OC

Genre:  Angst, Romance

Rating: G

PS : I do not claim any ownership over this fanfic except translation. This story made by kpopmaniac01  original published at asianfanfic.

——-

Semuanya dimulai dengan setitik hujan yang jatuh dari langit.

Semuanya dimulai ketika ia kembali.

Semuanya dimulai ketika ia melihatnya untuk yang pertama kali.

Tetapi, kisah dimulai ketika tuts itu ditekan.

Luhan

Jantungnya berdegup kencang saat rambut gadis itu tergerai bebas dan tangan yang perlahan menekan tuts-tuts itu. Sampai saat itu, hanya satu kata yang ada di dalam pikirannya: indah.

Dia indah. Caranya indah. Apapun tentangnya adalah indah. Tetapi, dia tidak pernah dapat kesempatan untuk mengatakannya karena dia terlalu malu untuk mengungkapkan. Setiap nada yang dimainkan gadis itu bisa membuatnya melompat. Seperti kesempurnaan, perasaan gadis itu, yang dia tidak pernah rasakan atau lihat dimanapun. Seperti ini, perlahan dengan waktu yang berlalu dan sebuah musik yang melayang di udara, dia jatuh ke lautan terdalam yang disebut cinta.

Ini menjadi sebuah kebiasaan melihat gadis itu dari kejauhan setiap hari. Menjadi sebuah kebiasaan bagi hatinya untuk berdetak lebih cepat saat gadis itu datang. Awalnya dimulai baru, namun kemudian menjadi membosankan, tetapi, dia tidak pernah lelah karenanya. Mereka menyebutnya dengan cinta. Tak berujung; dia akhirnya mengerti.

Cinta kepada gadis itu terus tumbuh hari demi hari. Rasa penasaran tentangnya juga bertambah setiap hari. Dia ingin mengetahui gadis itu, mengenal apapun tentangnya. Tetapi, ia tidak pernah punya keberanian untuk mengatakan sesuatu kepada gadis itu. Tidak, dia bukan penakut, dia hanya malu; benar-benar malu, dan dia seorang laki-laki yang mabuk cinta.

Dia tidak pernah merasakan hal ini dalam kehidupannya. Ia tidak pernah merasa diberkahi, juga bahagia.

Dan semuanya karena gadis itu.

Hal itu terjadi dan takdir memutuskan agar mereka bertemu. Temannya, Baekhyun adalah orang yang mengenalkan gadis itu kepadanya. Awalnya gadis itu pemalu, atau itu hanya ada di pikirannya. Tetapi mempelajari gadis itu hari demi hari membuatnya sadar, sang gadis tidak pernah tersenyum dari lubuk hatinya. Dia selalu tertutup. Dan ini membuatnya sangat terluka.

Bahkan setelah dia tahu nama gadis itu, dia masih merasa tidak puas. Dia ingin tahu lebih banyak tentangnya, tetapi gadis itu selalu menutup diri. Dia tidak bertanya kepada teman-temannya. Dia hanya ingin tetap di sana mendengarkan setiap nada yang ditekan oleh gadis itu. Dan itulah bagaimana dia perlahan memutuskan untuk bertanya kepada sang gadis, sekarang juga.

Sambil menarik tungkai kakinya secara perlahan menuju sang gadis, dia memanggil namanya. Gadis itu tidak membalas ataupun kaget. Dia tetap melanjutkan permainannya. Luhan mengulanginya sebanyak tiga kali; masih tidak ada respon darinya.

Lalu, dengan semua keberanian yang ada di dalam dirinya, dia meletakkan tangannya di bahu gadis itu. Sang gadis tersentak dan menatapnya.

Pandangannya bertemu dan saat itu hatinya mencair. Gadis itu cantik, matanya, seolah dia bisa hilang di dalam sana.

Kemudian gadis itu berlari. Luhan mengikutinya, tetapi dia sangat cepat. Hal itu membuatnya terluka ketika melihat sang gadis melarikan diri. Dan semakin terluka ketika keesokan harinya gadis itu tidak datang kembali; ketika Luhan tidak bisa mendengar nada-nada itu.

Dia dikagumi.

Dia dipuji.

Tetapi, dia tidak pernah bahagia.

OC

Dia bermain dan bermain dan bermain. Tidak ada hal lain yang bisa ia lakukan. Orang-orang mengagumi kemampuannya tetapi itu justru melukai dirinya.

Kenapa…?

Semua karena takdir. Dia tuli dan sayang karena dia tidak bisa mengerti mengapa orang lain memuji dirinya.

Itu adalah salah satu rahasia terdalamnya, sesuatu yang tidak pernah dia katakan kecuali kepada teman-temannya. Sebelum kecelakaan itu, dia masih bisa mendengar. Dia bisa mendengar apapun. Dan saat itu, semua pujian selalu menambah semangatnya. Tetapi sekarang, setiap ia melihat orang-orang berbicara tentang kemampuannya itu malah membuatnya sakit. Karena dia tidak bisa mendengar apa yang dia mainkan, yang menjadi alasan utama orang-orang memujinya.

Melihat seseorang mengagumimu adalah sesuatu yang tiap orang harapkan. Tetapi, baginya, itu hanya melukainya.

Lalu, suatu hari dia datang, Luhan. Pemuda yang memiliki wajah seperti bayi yang katanya mempunyai suara yang merdu, yang tidak mungkin bisa ia dengar. Dia bisa membaca bibir tetapi tidak dengan mendengar. Kepribadiannya, perilakunya, kebiasaannya, senyumnya, dia jatuh cinta untuk semua yang berhubungan dengan pemuda itu. Tetapi dia selalu punya rasa takut jika sang pemuda tahu tentang kelemahannya, tentang, pemuda itu tidak suka kepadanya; tentang pemuda itu yang akan menjauh dari dirinya.

Jadi, dengan perasaan itu, ia bermain piano dengan hatinya. Tetapi dia tidak sadar ketika pemuda itu datang semakin dekat dengannya.

Dan dia merasakan sebuah tangan berada di bahunya. Dari wanginya, dari sentuhannya dia bisa tahu kalau itu adalah Luhan.

Kepalanya menoleh ke belakang dan mata mereka berjumpa. Hatinya perlahan hancur ketika dia memikirkan apa yang akan terjadi ketika Luhan tahu tentang dirinya. Dia tidak menginginkan hal itu terjadi. Dia tidak ingin pemuda itu tahu. Jadi, dia berlari, menarik kakinya melangkah kemanapun dia pergi. Tetapi dia tidak mendengar langkah kaki, dia tidak mendengar namanya dipanggil.

Setelah beberapa saat, itu menghilang; semuanya menghilang, seolah dia ditemani oleh kegelapan. Dia tidak ingin kembali. Dia ingin menyembunyikan dirinya sendiri.

Gadis itu melarikan diri darinya.

Tetapi, bukan berarti dia menyerah.

Dia akan menangkapnya, bagaimana pun caranya.

Luhan

Dia mendapatkan alamat gadis itu dari sahabat sang gadis, Taeyeon, yang ternyata adalah kekasih sahabatnya. Tetapi, sebelum dia mendapatkannya, dia mengetahui sesuatu tentang gadis itu.

Dan semua jawabannya ditemukan disana.

Gadis itu tidak mengucapkan apapun karena dia takut. Sang gadis tidak mendengar suaranya karena dia tidak bisa mendengar. Tetapi, ada satu pertanyaan yang tertinggal di pikirannya. ‘Apakah dia juga mencintainya?’ Hal itu menghantui Luhan. Bagaimana jika dia tidak? Tetapi hal ini tidak menghentikan dirinya untuk pergi ke tempat gadis itu.

Dia akan mendapatkan semua jawabannya hari ini, bagaimana pun caranya, seberapapun sulitnya.

Jadi, dia pergi ke depan pintu rumahnya. Dan ketika sang gadis membuka pintu, dia diserang dengan bibirnya.

Dia menangkapnya.

Dia menyatakan dia cinta kepadanya.

Tetapi, lagi gadis itu takut.

Dia mendekatkan bibirnya dan balik menanggapinya. Untuk saat ini, dia melupakan semua kekhawatiran. Bibir pemuda itu hanya satu-satunya yang ada dipikirannya.

Tetapi setelah mereka terlepas, ketakutan mengelilinginya. Luhan mencintainya, tetapi bagaimana jika dia pergi meninggalkannya setelah dia mengetahui tentang keadaan tulinya?

Dia melepaskan diri dari pelukan Luhan dengan air mata yang terbentuk di matanya. Tetapi, apa yang dia tidak tahu adalah, saat ini pemuda itu tidak mempunyai niatan untuk membiarkannya pergi.

Jadi, Luhan menangkapnya kembali dalam pelukan yang hangat. Dia menangis ketika Luhan membelai lembut punggungnya, dan kemudian mencium puncak kepalanya. Ini membuatnya sadar bahwa Luhan menggunakan sikap, bukan kata, jadi, apakah dia tahu bahwa dia tuli?

Sambil melepaskan pelukannya, dia melihat ke mata pemuda itu dan hanya bertanya, jika Luhan mengetahui kelemahannya, yang kemudian dibalas dengan anggukan. Dia tersenyum dan kembali memeluknya dengan erat.

Ini adalah akhir dari keraguan, kecanggungan dan awal dari hubungan mereka

Dia tidak bisa berbicara tetapi dia tahu apa yang dia rasakan

Dia tidak berbicara tetapi membuatnya merasakan apa yang dia rasakan

-Selesai-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s