Gate

Title: Gate

Cast:

  • Kurumi Moresque

22 Tahun. Mahasiswi jurusan teater dengan part-timer sebagai artis debut junior

  • Atsushi Ishida (by Im Siwan)

23 Tahun. Pekerjaan sebagai Aktor Teater

Genre:  Role Player, To be continued

Rating: G

Cerita ini adalah kopian salah satu topik di RPF (Role Play Font) yang terdiri dari dua sudut pandang (PoV) dan ditulis oleh orang yang berbeda. Tak ada penambahan atau pengurangan dari segi cerita. Happy reading!

Kurumi’s PoV

Berapa hari seorang Kurumi mendekam di dalam apartemennya? Err.. mungkin lebih tepatnya milik sepupunya. Sudahlah yang jelas kelakuannya membuat sepupu dan neneknya khawatir. Mungkin menurut mereka gagal audisi masalah biasa yang bisa Kumi lakukan di kesempatan lainnya tetapi tidak demikian bagi gadis Italia ini. Audisi besar, banyak pencari bakat, dan kesempatan besar hilang di hadapannya. Latihan yang rutin dan mencari referensi yang sering dilakukannya terasa sia-sia hanya karena pergelangan kakinya yang baru sembuh mendadak kembali muncul saat audisi. Menyisakan malu yang luar biasa di hadapan juri-juri besar. Sial..

Jam delapan malam, gadis Moresque sudah rapi termasuk dengan riasannya. Tak ada orang di apartemennya. Bagaimanapun Kurumi tidak bisa melewatkan jam ‘belajar’nya tiap hari selasa. Sejenak dia ragu untuk tidak berangkat tetapi dia tidak bisa menyangkalnya padahal kuliah dan latihan dia lewatkan begitu saja. Hanya butuh waktu kurang dari setengah jam dia sudah berada di distrik Seifu melalui subway. Juga dalam beberapa menit, gedung dengan gaya eropa berada di depannya.

Toshi Haku Opera House

Dia tidak akan melewatkan minggunya tanpa menyaksikan drama musikal. Hanya dengan membayar dua puluh kimu, dia bisa menyaksikan pertunjukkan tiga jam. Well, mungkin pelajaran hari ini tidak akan diresapi otaknya. Sesungguhnya pertunjukkannya lebih menarik dari minggu kemarin dari segi cerita maupun penampilan artisnya tetapi kali ini, untuk pertama kalinya, Kurumi tidak ada antusiasnya. Ketika orang lain melakukan standing ovation, gadis ini hanya bertepuk tangan di bangkunya.

Kurumi sempat melirik jam tangannya, jam dua belas lewat. Jamnya teater tutup. Biasanya setelah pertunjukkan Kumi mencatat beberapa hal di buku kecilnya. Kenyataannya berbeda. Dia hanya duduk diam di bangku sebuah bus stop. Dia bukan sedang menunggu bus mengingat jam bus dan subway sudah tidak ada saat tengah malam. Pandangannya melihat mobil-mobil yang melintas di depannnya sementara pikirannya menerawang membalik waktu saat audisi. Dia butuh waktu lagi.

Atsushi’s PoV

Hari ini Atsushi tidak ada jadwal panggung, tapi bukan berarti dia tidak akan menyisakan waktunya untuk mengunjungi Toshi Haku Opera untuk melihat teman-temannya beraksi di atas panggung bukan? Selain sebagai wujud dukungan, Atsushi menjadikannya sebagai suatu bentuk pelatihan dan pembelajaran diri untuk membuatnya semakin hebat diatas panggung. Bagaimana para pemain bermain dengan sangat epik hingga memunculkan reaksi penonton yang luar biasa– seperti malam hari ini.

Atsushi menjadi salah satu penonton yang memberikan Standing Applause untuk para pemain yang berhasil menyuguhkan penampilan drama musikal yang indah, dengan nuansa musikalitas yang luar biasa. Atsushi berharap drama musikal yang sebentar lagi akan ditampilkannya sekitar pertengahan bulan Februari saat hari Valentine nanti akan sama wahnya seperti pertunjukan pada malam ini.

Atsushi menengok sedikit kearah lain saat tidak sengaja tangannya menyenggol tubuh seorang disebelahnya. “Sorry, sir.” Dan menyadari dari arah pandang itu, ada sosok gadis yang sepertinya tidak sesemangat dirinya dalam menikmati drama musikal itu. Apa dramanya terlalu membosankan untuk gadis itu?

***

Thanks for coming… and the bouquet so beautiful.” Ucap Margaretta, salah satu teman yang Atsushi kenal sejak dia menekuni pekerjaan sebagai actor panggung. “You’re very welcome. Aku tidak mungkin melewatkan dramamu tanpa hadiah setelahnya.” Puji Atsushi, lalu setelah mulai banyak orang-orang yang mendekati Margaretta untuk memberikannya selamat, Atsushi pun pamit undur diri, lagipula dia harus segera pulang karena Moon pasti menunggunya di rumah sendirian.

Walau Atsushi sudah sampai sengaja menyewa pelayan wanita untuk menemani Moon di dalam rumah jika Atsushi sibuk diluar karena pekerjaan dan dunia sosialnya. Atsushi tetap saja khawatir. Bagaimanapun Moon adalah amanat baginya. Atsushi berjalan, memasang mantel, syal dan juga kedua sarung tangannya untuk mengusir udara dingin di dini hari ini. Merasakan kepulan-kepulan asap dingin keluar dari hidung dan mulutnya.

Beberapa orang kenalan menyapa Atsushi yang bersiap untuk pulang dan Atsushi pun membalas sapaan itu dengan lambaian tangan ataupun senyuman ramah. Sampai dia berjalan dan mendapati gadis yang tadi terlihat tak bersemangat di dalam gedung opera, sedang menunggu di Bus Stop. Padahal jam segini, bus sudah tidak lagi beroperasi. Jadi, jika gadis itu hendak pulang, satu-satunya jalan hanyalah dengan naik Taksi. “Good Night, miss. Sudah malam, apa kau tidak pulang?” Tanya Atsushi ramah.

Kurumi’s PoV

“Kau tidak perlu datang, dear
“Aku sudah pulih, nek”
“Jangan memaksakan dirimu! Kau baru saja keluar rumah sakit, Kumi”
“Semuanya pasti akan berjalan lancar. Don’t worry
“…”


Mungkin seharusnya gadis Moresque ini tidak terlalu berambisi untuk lolos dalam audisi. Juga seharusnya dia mendengarkan permintaan neneknya yang pasti sudah memperkirakan hal ini. Tidak seperti dirinya. Bahkan umur dua puluh tahun belum membuatnya berpikiran dewasa. Labil.

Kemungkinan untuk gagal saat audisi memang besar. Kurumi menggantungkan nasibnya pada sebuah keajaiban. Nyatanya keajaiban hanya omong kosong baginya. Salahnya jika berpikir pada kata ajaib semata. Lantas, apa hidupnya harus terhenti karena satu audisi? Apa berdiam diri seperti yang dilakukannya saat ini dapat mendatangkan sesuatu?

Good Night, miss

Kurumi, get your sense back..

“Sudah malam, apa kau tidak pulang?”

Arah pandangnya berubah begitu koneksi telinga dengan otak kembali berhubungan. Manik biru tuanya mendapati seorang entitas laki-laki di dekatnya. Mungkin kalau dalam keadaan normal, Kumi bisa antusias dengan semangat menggebu mengingat entitas di dekatnya adalah salah satu ‘penghuni’ teater. Kumi bisa mengeluarkan apa yang mengganjal di otaknya tiap kali dia menonton teater. Sayangnya tidak demikian.

Kumi membungkuk sesaat dan tersenyum asimetris. Setidaknya dia masih memilikimanner “Aku sedang menunggu” ucapnya singkat dibalik kalimat ambigunya. Nyatanya banyak yang harus dia tunggu. Terutama audisi atau kesempatan sejenisnya. “Pertunjukan yang bagus.. tadi. Benar ‘kan?” Tanya Kumi dengan nada yang err.. ragu. Dia bukan dalam posisi untuk menilai. Ragu kalau-kalau pemuda itu beranggapan salah terhadap dirinya. Kembali Kumi tersenyum canggung kepada pemuda itu.

Atsushi’s PoV

Gadis itu akhirnya menengok kepadanya. Atsushi mengulum sebuah senyum sopan saat gadis itu tersenyum padanya, gadis yang tergolong kedalam gadis-gadis cantikpikirnya sejenak saat melihat wajah gadis itu yang akhirnya bisa dilihatnya dengan lebih dekat lagi. Sayang suasana hatinya tidak mendukung kecantikannya… Tambah Atsushi dalam hati. Bukan pada tempatnya, Atsushi mengomentari atau mengusik gadis itu hanya karena sesuatu yang mengganjal di dadanya tentang mengapa gadis itu nampak begitu tidak bersemangat hari ini.

“Menunggu jemputan?” Terka Atsushi. Dia sendiri sebenarnya hanya perlu berjalan sedikit untuk sampai ke mobilnya yang terparkir di parkiran luar gedung opera ini. Dia memang sengaja membawanya karena dia merasa nantinya dia akan terlalu malam untuk sampai ke rumahnya kalau dia masih menggunakan kendaraan umum. Bahkan mungkin kendaraan yang masih bisa digunakannya hanyalah taksi saja mengingat jam pertunjukan berakhir pada jam tengah malam.

“Bagus, tapi masih ada beberapa kekurangan di dalamnya.” Jawab Atsushi. Walau yang bermain di dalam drama itu adalah salah seorang sahabatnya, namun demikian, dia tidak akan pernah memberikan penilaian yang terlalu subjektif hanya karena mengingat bahwa temannya yang sedang bermain. Drama itu memang sedikit memiliki kekurangan. Namun jika harus dinilai secara keseluruhan. Kekurangan itu telah tertutupi dengan baik dengan kelebihan yang lainnya. “Dan kurasa aku tadi sempat melihat bahwa kau nampak tidak terlalu puas dengan drama itu… atau, ada alasan lain kenapa kau berwajah begitu suram di dalam gedung opera tadi?” Tanya Atsushi. “Bukan bermaksud buruk, aku hanya tak sengaja melihat ekspresi wajahmu saat aku hendak keluar dari dalam gedung tadi. Kau terlihat tidak baik…” Tambahnya menjelaskan.

Kurumi’s PoV

Galau adalah bahasa kekinian mengenai salah satu perasaan gelisah dalam menentukan suatu keputusan. Mungkin seperti itu kira-kira definisinya. Kurumi bukan termasuk penganut galau. Menurutnya galau itu diberikan kepada orang di bawah umur sedangkan dirinya yang sudah berkepala dua menyebutnya dengan dilema. Bukankah terdengar lebih keren? Penggambaran yang buruk. Pertanyaan terpenting untuknya adalah pada kejadian apa hingga bisa dinyatakan terjadi dilema?

Keningnya berkerut sesaat atas terkaan sang pemuda. Sebenarnya gadis Moresque ini sedang menunggu lubang raksasa sehingga dia bisa masuk dan menghilang di dalamnya untuk sementara. Sekali lagi, dia hanya menyunggingkan senyum ala kadarnya sebagai jawaban yang menggantung. Pun kenyataannya dia tidak sedang menunggu jemputan, apakah pemuda ini akan mengantarnya pulang sementara mereka tak saling kenal? Akan ajaib jika sampai mengantarnya pulang dengan keadaan utuh. Bukan bermaksud berpikiran buruk, dia hanya sedikit berasumsi bahwa kenyataannya saat ini Kurumi..defenseless.

“Mana mungkin aku tidak puas setelah menonton drama yang cukup terbilang epik? Kau bercanda. Hahaha”

Saraf-saraf di sekitar bibirnya menggerakkan ototnya secara terpaksa untuk sekedar tertawa. Tidak perlu ia menceritakan isi dramanya karena dia sendiri tidak terlalu ingat apa alur ceritanya. Kembali gadis Italia ini terdiam menatap sorotan lampu-lampu mobil yang masih lalu-lalang. Berharap ada salah satu kendaraan yang menabraknya sehingga ia kehilangan ingatannya terutama mengenai audisi.

“Apa terlihat buruk? Ah, Mungkin kau salah lihat orang, tuan? Aku seperti yang kau lihat masih terlihat baik”

Kedua kelereng biru tuanya menatap sang pemuda. Mengikuti postur tubuhnya dari bawah sampai ke wajah yang terbilang tampan. Wajah pilihan pertama untuk orang yang bekerja di panggung hiburan. Opini itu sepertinya benar. Senyum tipis mengulas di bibirnya. “Terima kasih sudah mengkhawatirkanku”

Tangannya bergerak merapatkan mantel yang terbalut ditubuh bagian atasnya. Kembali manik matanya melihat anonim di dekatnya. “Tuan, kau sendiri sedang menunggu seseorang?” Kurumi memandang anonim lain yang mungkin bergerak ke arahnya tetapi nyatanya nihil.

Atsushi’s PoV

Satu kata yang dapat Atsushi katakan mendengar tawa gadis itu serta pernyataannya adalah bahwa gadis itu BOHONG. Sebagai seorang yang berkecimpuk di dunia seni peran, Atsushi sudah terlalu mahir membaca mimik wajah seseorang sehingga tidak ayal dirinya sering kali mendapati beberapa kekasihnya berbohong kepadanya hingga pada keesokan harinya Atsushi mendapati dirinya tidak ingin melanjutkan hubungan dengan mereka.

Bukan berarti Atsushi ingin menyamai gadis ini dengan kekasih-kekasihnya. Gadis ini jelas berbeda. Dia hanyalah gadis yang segan untuk mengatakan hal sejujurnya kepada Atsushi, anggap saja karena Atsushi merupakan orang asing baginya. Atsushi sendiri menganggap gadis itu juga asing baginya. Tapi tidak pernah ada larangan bagi sesama orang asing untuk tidak saling menyapa atau mengobrol bukan?

Bahkan jika Atsushi mengajak gadis ini pulang bersamanya—jika benar dia tidak memiliki tumpangan atau jemputan. Sebagai seorang pria berpendidikan baik dangentleman, Atsushi jelas harus menawarkan sedikit bantuan itu kepada sang gadis bukan?—walau mungkin akan ditolaknya.

Sebagai pengganti kalimat yang tidak bisa diucapkan oleh Atsushi terhadap gadis itu, Atsushi pun memilih untuk tersenyum tipis saja, membiarkan gadis itu dengan kebohongan kecilnya.

“Mungkin—“ Jawaban itu terdengar bermakna ganda. Atsushi jelas tidak mungkin salah lihat, pertama matanya masih sangatlah bagus, dua dia sangat pandai membaca mimik muka seseorang sehingga sulit baginya untuk ditipu. Hanya saja, jika jawaban itu bisa membuat gadis itu tenang, biarkanlah dia mendengarkan jawaban yang diinginkannya. “—haruskah aku meminta maaf karena salah menduganya?”

“Sama-sama, Miss. Aku sendiri telah berbuat seenaknya karena mengkhawatirkan dirimu. Padahal seperti yang kau katakan, kau baik-baik saja.” Jawab Atsushi masih dengan senyum sopannya. “Tidak, aku tidak sedang menunggu seseorang. Mobilku ada di parkiran sana, aku hanya mampir menanyakan kabarmu, kalau-kalau kau memang sedang tidak dalam keadaan baik.” Jawabnya setelahnya.

“Haruskah saya menemanimu sampai jemputanmu datang nona?” Tanya Atsushi dengan senang hati menemani jika itu memang yang diperlukan.

—TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s