Trust (Prolog)

Author        : President

Title            : Trust (Prolog)

Main Cast   :

– Lee Jongsuk

– Baek Jihyun

Rating         : General

Length        : Sequel

Music Background : Life – SHINee

My first continues-fanfic that I’ve ever made. The cast is Lee Jongsuk that appeared at School 2013 drama series. It was cool drama and I like his personality. It might be not good but please enjoy it.

When you’re tired and having a hard time
Please let me stay by your side
So I can give back to you the love I had only received
Before this life ends

Bel pintu berdering dua kali dan seorang pria muda berumur 23 tahun keluar dari balik pintu. Masih menggunakan pakaian tidurnya dengan raut muka yang lelah, pemuda itu menatap punggung seorang perempuan dengan rambut hitam yang terkuncir acak di hadapannya. Sang pemuda menguap pelan setelah mengetahui siapa tamunya.

“Ada apa Jihyun-ah? Ini masih jam 2 pagi” ucap laki-laki tersebut setelah melihat jam dinding di dalam ruangannya. Perempuan bernama Jihyun itu masih berdiri memunggunginya. Dia mengatur poni rambutnya sesaat. Ada rasa ragu sebelum dia mulai berkata tentang keperluannya.

“Jongsuk-ie boleh aku menginap malam ini? Hanya untuk malam ini saja” Pemuda yang diketahui bernama Lee Jongsuk mengerutkan dahinya. Menduga-duga karena ada gelagat aneh dari perempuan di hadapannya. Tidak biasa jika seorang Jihyun menginap di apartemen Jongsuk tanpa barang bawaan layaknya orang yang menginap.  Tangan pemuda itu memegang bahu Jihyun dan memutarnya untuk menghadapnya.

Seketika Jihyun menutupi bagian mulutnya dengan kedua telapak tangan. Mata coklatnya melengkung pertanda dia tersenyum melihat pemuda di hadapannya. Semakin aneh menurut pemuda itu. Jongsuk menyingkap tangan yang menutupi setengah wajah Jihyun. Pemuda itu tercekat begitu melihat di sudut bibir sahabatnya itu terdapat luka dengan sisa-sisa darah yang sudah terhapus.

Jihyun masih tersenyum pahit sementara tangan Jongsuk mulai memegang dagunya, meneliti semua sudut wajahnya yang sebagian ditutupi kacamata bening yang bertengger di hidungnya. Kembali pemuda itu membulatkan mata setelah menyingkap poni yang menutupi pelipisnya kanannya. Darah yang sudah mengering mengumpul di ujung alisnya.

“Aboji ne?” Tanya Jongsuk singkat. Tanpa menunggu balasannya, dia menarik tangan Jihyun untuk masuk ke dalam apartemennya. Jihyun meringis pelan. Pemuda bermarga Lee spontan melepaskan pegangannya. Kembali ada rasa khawatir terhadap keadaan sahabatnya itu. “Duduk disana dan lepas cardiganmu” ucapnya sambil melangkah ke arah dapur.

Jongsuk kembali dengan sebuah kotak kesehatan dan baskom yang berisi air. “Kenapa belum kau lepas cardiganmu?” Ada nada kesal yang tertahan dari Jongsuk. Jihyun ragu melepasnya tetapi dia menurut dan hanya meninggalkan kaos yang dipakainya. Kembali mata Jongsuk membulat tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Lengan yang seharusnya putih mulus sekarang terdapat noktah dari biru sampai merah dengan ukuran yang tak kecil. Jongsuk menghela nafasnya panjang.

“Bagaimana bisa kau terus kembali ke rumah? Sementara ibu dan saudara-saudaramu sudah pergi meninggalkan ayahmu?” Tanya Jongsuk sambil membersihkan luka-luka di wajah Jihyun. Gadis itu meringis pelan.

Jongsuk merapikan peralatan medisnya setelah mengobati Jihyun. Sepasang manik hitamnya menatap gadis yang duduk di dekatnya. Jihyun menghindari tatapan mata intens dari laki-laki itu. Dia tahu bahwa Jongsuk masih menunggu jawaban atas pertanyaannya tadi. “Kau tahu ayahku sekarang hanya seorang diri. Tidak ada lagi yang mengurusnya” Suara Jihyun pelan bahkan terdengar seperti berbisik. Jongsuk menutup matanya sambil kembali menghela nafas seolah dia tahu jawaban yang sebenarnya.

Pemuda Lee meraih tangan Jihyun yang sedang memilin jari-jarinya. Mengenggamnya dalam kuasa telapak tangannya. “Tidak adakah alasan lain? Kau mengatakannya ribuan kali kepadaku, Jihyun-ah” Tak ada suara pembelaan dari Jihyun. “Ya sudah, sekarang kau istirahat dulu di kamarku. Besok kita lanjutkan” Jihyun mengangguk pelan. Tentu saja, Jongsuk tidur di sofa yang cukup besar.

“Aku akan menyelesaikannya. Kau percaya padaku ‘kan?”

Ucapan Jongsuk pagi tadi masih terbayang di pikiran gadis itu. Kini dua orang itu berada dalam rumah Jihyun. Bau alkohol menyengat ketika memasuki rumah Jihyun. Botol-botol minuman keras mengumpul di setiap sudut ruangan. Jihyun membereskan botol-botol itu, sementara Jongsuk menemui ayahnya. Berhadapan dengan ayah Jihyun yang tak karuan keadaannya.

“Paman, bagaimana kabarmu?”

“Apa terlihat baik hah! Sialan..”

“Paman, langsung saja. Tidak bisakah paman bersikap yang sewajarnya kepada Jihyun? Seperti yang paman lihat, hanya tinggal Jihyun yang ada disisi paman”

“Anak bodoh! Apa maksudmu?!”

“Apa paman tahu perasaan Jihyun?”

Brak! Ayah Jihyun menggebrak meja yang berada diantara dia dengan Jongsuk. Jongsuk tetap bersikap setenang mungkin. Ayah Jihyun menarik kerah baju Jongsuk. Jihyun yang melihatnya segera memegang tangan ayahnya. Memohon untuk melepaskan tangannya dari Jongsuk.

“Anak bodoh! Kau pikir kau siapa hah?! Aku bisa mengurusnya sendiri!” Jongsuk tersenyum asimetris yang justru membuat amarah ayahnya makin meluap. “Seperti inikah cara paman mengurusnya? Mengancamnya bahkan menghajarnya sampai puas” Kepalan terlayang di pipi Jongsuk membuatnya tersungkur. “Appa! Hentikan!” Teriak Jihyun sambil menangis di sisi Jongsuk. Jongsuk merasakan bagian tulang pipinya yang sakit.

“Bocah sialan! Kau mau mati hah?” Teriak ayah Jihyun. Jongsuk berdiri dari posisi jatuhnya dan membersihkan pakaiannya. Dia menarik Jihyun untuk ikut berdiri di sampingnya. Mengenggam tangannya erat. “Aku akan membawanya jika paman tidak bisa mengurusnya” ucap Jongsuk tegas.

Ayah Jihyun tertawa mendengarnya. “Kau? Mau membawanya? Bahkan ibunya yang bodoh itu meninggalkannnya, memang kau bisa apa hah?” Wajah Jongsuk menegas serius. “Kau bawa saja anak bodoh ini, aku tidak membutuhkannya” ucap ayah Jihyun santai. “Appa!” Teriak Jihyun tetapi genggaman tangan Jongsuk menahannya.

“Baiklah, kupastikan Jihyun tidak akan terluka lagi. Permisi” Jongsuk membungkuk singkat dan mengajak paksa Jihyun keluar dari rumahnya. Ayah Jihyun terus memakinya sampai suaranya tidak terdengar lagi karena dua orang itu sudah menjauhi rumah itu.

Jongsuk mengendarai motornya dengan Jihyun dibelakang. Tanpa ada pembicaraan, diam dalam perjalanannya. Motor Jongsuk berhenti di sebuah padang ilalang yang dekat dengan sungai Han. Jihyun turun dari motor dan menghadap sungai Han. Diikuti Jongsuk yang berdiri di sampingnya. Jihyun menghela nafasnya. “Mianhae. Jeongmal mianhae Jongsuk-ie” ucapnya pelan. “Maaf telah melibatkanmu..”

“Bukankah kita sahabat, Jihyun-ah?” Potong Jongsuk. Jihyun terdiam. Seketika bulir-bulir bening keluar yang terlihat dibalik kacamatanya. Menyusuri pipinya dengan cepat. Berapa kalipun Jihyun menghapusnya, air matanya terus menerus keluar “I..ini aneh” jawabnya sambil tersenyum. Jongsuk memberikan sapu tangannya yang diterima Jihyun. “G..gomawo”

Jongsuk mengelus pelan punggung Jihyun. Gadis itu belum terlalu kuat membawanya sendiri. Jihyun menangis pelan dengan bersandar kepada sahabatnya. “Mianhae Suk-ie..” Jongsuk membiarkan gadis itu menangis dalam pelukannya. Membiarkan segala perasaannya keluar. Untuk yang pertama kalinya, Jongsuk melihat sahabatnya menangis. Selama ini, Jihyun selalu menutupinya dengan baik semua masalahnya walaupun Jongsuk tahu seperti apa masalah yang melanda sahabatnya.

Isak tangis Jihyun mulai mereda dengan sesekali segukan. Jihyun masih dalam pelukannya. Jongsuk menepuk punggungnya perlahan. “Seharusnya aku tidak mengatakan ‘gwenchana’ tetapi aku tahu kau pasti bisa melaluinya. Karena kau Baek Jihyun” Ada anggukan pelan yang dirasakan Jongsuk. Semilir angin di awal musim gugur masih menyisakan rasa hangat. Semoga angin bisa menghilangkan rasa sakit Jihyun, doa seorang Lee Jongsuk saat ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s